Kesempatan Yang Terlewatkan

*As printed and published in the first edition of “Never Ending Love” by Andi Publisher and T-More

oOo

Lia sedang dalam perjalanan menuju kampus ketika ia melihat bapak tua itu lagi. Bapak tua yang biasa nongkrong di belakang kampus itu lagi-lagi mengenakan kemeja lusuh, topi lusuh dan celana tuanya yang sudah robek-robek. Peluhnya penuh keringat dan kulitnya hitam terbakar matahari. Ia duduk sambil memegang tongkatnya, dan di depannya terdapat gelas aqua bekas yang kosong.

Lia melihat bapak tua itu hampir setiap ia melewati kampus, dan tidak pernah hatinya tidak terenyuh. Seringkali terbersit di dalam pikirannya untuk merogoh sakunya atau membuka dompetnya, mengambil uang receh dan memasukkannya ke dalam gelas kosong itu. Tapi pikiran lain datang melintas dan ia melewati bapak tua itu tanpa melakukan apa-apa. Ia sedang terburu-buru, masih ada lain kali, pikirnya.

***

Dodi berjalan keluar dari ATM sambil memasukkan uang yang baru saja ditariknya dari mesin ATM ke dalam dompet. Jatah bulanannya sudah menipis. Kalau ia tidak segera berhemat, mungkin ia akan menghabiskan akhir bulan dengan puasa. Ia berjalan ke depan kampus, menunggu angkutan umum yang lalu-lalang untuk mencari penumpang. Di tengah-tengah penantiannya, seorang ibu tua berpunggung bungkuk mendekatinya, mencoba menawarinya jajanan.

Ia memperhatikan ibu tua tersebut dan merasa iba. Badan ibu tua itu amat sangat kurus, dan—melihat ke bawah, kakinya yang hitam legam itu penuh luka. Masuk akal, melihat sandal yang dipakainya pun sudah rusak parah. Entah kemana saja ia pergi untuk menjajakan jualannya.

Meskipun demikian, Dodi melihat dari kejauhan, angkutan umum yang dinantinya sudah datang. Melihat muka memelas ibu tua itu, hatinya terenyuh, tapi angkutan umum yang ditunggunya sejak tadi semakin dekat. Masih ada besok, pikirnya. Dan ia menggeleng pelan kepada ibu tua itu sambil memasuki angkutan umum yang sekarang berhenti di depannya.

***

Michael tengah mengerjakan skripsinya ketika handphone-nya berbunyi. Temannya, Joseph mengiriminya sms yang berbunyi:

“Mike, gw lg sm ank2. Qta mw mkn d t4 biasa. Lo ikut g?”

Mike menghela nafasnya dan ia menatap jam dinding di belakangnya. Ia sudah mengerjakan skripsinya dari siang. Tiba-tiba saja sekarang sudah malam dan teman-temannya mengajaknya makan bersama. Tidak ada salahnya beristirahat sebentar.

“Iya gw ikut.” Ia mengetikkan balasannya dan mengirimnya balik ke Joseph.

Sambil mengenakan jaketnya, ia mematikan komputernya dan meraih kunci motornya, menyusul teman-temannya ke tempat yang sudah dijanjikan.

***

Mike memarkir motornya dan ia melihat teman-temannya sudah menunggunya. Ada Joseph, Lia, Maia dan Dodi, dan mereka menyisakan dua tempat duduk untuk Mike dan entah siapa.

“Oy! Mike!” panggil Dodi.

Mike melambaikan tangannya dan menghampiri mereka.

“Ada siapa lagi?” tanyanya, menunjuk kursi kosong di sebelahnya.

“Albert sebentar lagi nyusul. Dia masih di tempat kerja,” jawab Joseph.

“Eh, tuh si Albert,” kata Lia. Mereka semua menoleh dan melihat Albert sedang berjalan masuk mendekati mereka.

“Mending kita pesen dulu aja makanannya, sebelum gue mati kelaparan gara-gara kelamaan nunggu dua makhluk planet Zog ini,” kata Maia. Ia menyodorkan daftar menu ke teman-temannya.

“Kita mau makan apa sih? Mau pesen buat sendiri-sendiri apa barengan aja?” tanya Mike.

“Barengan aja deh,” jawab Joseph, yang diiyakan oleh teman-temannya yang lain.

“Oke. Ayo pilih mau makan apa,” kata Maia sambil memanggil waiter.

“Sapo tahu seafood dong,” kata Lia.

“Ampun deh. Bisa nggak sih, sekali-sekalinya makan chinese food bareng lo nggak makan sapo tahu?” protes Joseph.

“Lho? Emang kenapa? Kan yang lain juga suka? Gak papa lah!” jawab Lia dengan sedikit merengek.

“Ya udah. Sapo tahu seafood. Apa lagi?”

“Hmmmm, ayam ca jamur deh,” Mike urun suara.

“Sama… ca kangkung,” tambah Albert.

“Oke. Ayam ca jamur sama ca kangkung, nasinya enam, plus air putih enam,” ulang Maia kepada waiter. “Gak pake lama ya, mas!” sambungnya.

“Eh, nggak kebanyakan ya, kita pesennya?” tanya Lia takut-takut.

“Nggak lah!” jawab Maia. “Lo lupa, kita makan sama cowok-cowok karnivora—pemakan segala? Yang ada malah kita yang nggak kebagian makan gara-gara udah keburu diembat sama tiga makhluk buas ini!”

“Udahlah… Masih mending bisa makan. Paling enggak kita masih kasih kalian berdua jatah,” celetuk Albert sambil menunjuk Maia dan Lia. “Kita masih baik, tauk. Coba kalo enggak, pasti semua makanan yang tadi dipesen kita embat, terus kalian berdua yang suruh bayar!”

“Ih! Dasar kutu! Nggak tau diri!” omel Lia, namun ia terkekeh juga.

“Eh, iya lho! Masih mending! Bersyukur dong, kalian!” timpal Mike.

“Tau nggak, gue jadi inget sama bapak tua yang biasa nongkrong di belakang kampus itu. Kasihan ya bapak itu..,” kata Lia.

“Hah? Yang mana? Yang berjanggut dan pake topi lusuh itu?” tanya Maia.

“Iya. Gue inget-inget, dari awal gue mulai kuliah di sini, gue selalu liat bapak tua itu di belakang kampus ya?” jawab Lia.

“Iya ya? Kayaknya emang udah lama dia nongkrong di situ. Dari jaman gue awal-awal kuliah di sini juga gue udah sering liat tuh si pak tua,” timpal Mike.

“Gila, udah lama juga ya?” celetuk Dodi. “Tadi siang juga, di depan kampus, ada ibu-ibu bungkuk nawarin gue jajanan entah apa gitu. Dia kurus banget. Sayang gue nggak suka jajanannya. Jadi gue tolak deh. Dia juga udah lama ya?” tanya Dodi.

“Ntah juga. Gue nggak tau yang mana,” tambah Mike, “nggak terlalu merhatiin juga sih, gue. Kan lebih penting skripsi, hehehe.”

Bagaimana dengan mereka yang menjerit karena lapar, dan hidup dari belas kasihan orang s’perti kita?” Spontan, Dodi menyanyikan lagu dari grup band rohani One Way, disambut dengan tawa teman-temannya.

Tak lama, pesanan mereka datang, dan mereka pun berganti topik dan mengobrol dengan asyik.

***

Jam tangan Lia menunjukkan pukul 9 malam. Saking asyik mereka mengobrol, malam semakin larut. Akhirnya mereka berenam keluar dari rumah makan dengan perut kenyang dan puas.

“Wah, gue balik lagi ke skripsi nih,” keluh Mike. “Wish me luck, ya.”

“Eh, liat tuh,” kata Lia. Ia menunjuk ke seberang jalan. Serentak, teman-temannya melayangkan pandangan mereka ke arah yang ditunjuk Lia.

Seorang pria setengah baya, cukup gemuk, berpakaian lusuh dan dekil, tidur di pinggir jalan hanya beralaskan kertas koran.

“Kenapa? Lo mau ngasih dia duit?” tanya Albert, setengah menyindir.

“Gak sih…,” jawab Lia lirih.

“Haha. Ya udahlah. Yuk, kita pulang,” ajak Maia. Tapi Lia bergeming.

“Gue kasihan ngeliatnya,” celetuk Lia setengah bergumam.

“Ha?”

“Ya enggak. Mikir aja, tuh orang udah nggak punya apa-apa kali ya?” tanya Lia, retoris.

Maia menghela nafas dan menghampiri Lia. “Ya udah, lo kasihan sama orang itu. Terus lo mau ngapain?” tanyanya.

“Ntah. Gue bisa apa?” tanya Lia.

“Menurut gue, nggak ada gunanya kita ngomong ‘kasihan’ kalo kita nggak ngelakuin apa-apa, tau nggak,” kata Maia.

What?” tanya Dodi.

“Iya,” jawab Maia. “Sekarang kalian bilang ‘kasihan’ dan ‘kasihan’. Tapi kalian bahkan nggak melakukan apa-apa untuk orang itu. Pengemis-pengemis dan gelandangan kayak mereka tuh udah nggak butuh ‘kasihan’, tau nggak. ‘Kasihan’, ‘kasihan’, dan ‘kasihan’. Oke. Lantas apa? Cuma itu? Wah, mereka nggak butuh.

“Orang-orang kayak mereka tuh bahkan udah nggak ngerti hal-hal semacam iman dan harapan. Mereka nggak butuh tuh, ucapan semacam, ‘kasihan’, atau ‘percaya aja ya, pak, Tuhan pasti bakal tolong.’ Lebih berguna kalo kita langsung datengin mereka dan kasih nasi rames, ato malah duit sekalian, daripada cuma ucapan kasihan sambil lalu,” kata Maia.

“Duh, pedesnya…,” sindir Mike.

“Sori, guys. Anggep aja gue kesambet, tapi gue bisa ngomong begini, karena gue sendiri pernah dalam posisi seperti itu—yah, nggak persis kayak begitu sih, tapi orang-orang yang bilang ‘kasihan’ dan ‘kasihan’ itu nggak melakukan apa-apa yang merepresentasikan rasa kasihan itu. Waktu itu gue mikir, ‘gue nggak butuh ‘kasihan’ kalian! ‘Kasihan’ nggak bakal bantu gue keluar dari masalah ini!’ Dan mungkin, buat gelandangan kayak mereka juga sama: ‘kasihan’ nggak akan merubah hidup mereka lantas jadi tercukupi dan kaya raya. Ya kan? Jadi intinya, ‘kasihan’ tanpa perbuatan itu bulshit!* Dan gue udah muak sama semua itu. Gue nggak akan mau ngomong kasihan, kalo gue nyadar gue nggak bisa—atau nggak mau melakukan apa-apa.”

Semua saling berpandangan satu sama lain. Ada rasa bersalah terpancar di mata mereka masing-masing.

You know what, she’s right.

Yeah, we all know. But still, we do nothing.

Dalam diam, mereka semua naik ke motor masing-masing, dan satu per satu mulai pergi.

Lia mendekati Maia yang sedang menyalakan motornya, dan memeluknya.

You know what, makasih buat semua teguran lo malem ini. Lo bikin gue merasa bersalah dan malu banget. Tapi lo emang bener. Thanks for telling me this,” kata Lia.

You’re welcome. Gue cuma mengutarakan opini gue—yang kayaknya a lil bit too rude, hehe,” jawab Maia.

***

Keesokan harinya, seperti biasa, Lia menuju kampusnya, dan lagi-lagi, ia melewati bapak tua di pintu belakang kampus. Ia sudah membulatkan tekad untuk, paling tidak, memberi bapak itu sesuatu—entah uang, entah makanan, pokoknya apa saja yang ia bisa berikan. Tapi rasa malas menghampirinya. Lagipula—lagi-lagi, ia diburu waktu. Ia sudah janji bertemu dengan dosennya untuk konseling tugas yang harus dikumpulkannya lusa. Akhirnya, menghela nafas dengan berat, lagi-lagi Lia melewati bapak tua itu. Masih ada nanti, pikirnya.

Sorenya, semua urusan Lia akhirnya selesai, dan ia hendak kembali ke kos. Mendekati pintu belakang kampus, ia teringat bapak tua itu. Mampir sebentar ke kantin, Lia membeli nasi rames yang niatnya akan diberikan ke bapak tua itu.

Di pintu belakang kampus, ia menghampiri bapak tua itu. Seperti yang biasa dilihatnya, mukanya tertunduk, tertutup topi lusuhnya. Tapi kali ini, bapak itu tidak memegang tongkatnya lagi. Malahan, tongkat itu digeletakkan begitu saja di sampingnya.

Setelah memastikan sekitarnya memang sepi, Lia berjongkok di depan bapak itu, dan berkata,

“Pak, ini ada nasi buat bapak. Bapak makan ya?”

Pak tua itu tidak bergeming.

Heran, Lia meraih tangan bapak tua itu dan memberikan nasi ramesnya yang masih terbungkus rapat. Nasi rames itu bahkan tidak sempat digenggamnya, dan langsung terjatuh begitu saja. Tangan bapak itu terasa dingin sekali. Mendadak, Lia merasa ngeri. Ia mengguncang tubuh si pak tua.

“Pak? Bapak? Ini saya beli nasi buat bapak,” katanya lagi.

Bapak itu masih tidak bergeming.

Merasa frustasi, Lia mengguncang tubuh bapak tua itu lebih kuat lagi.

“Pak? Bapak? Ini ada nasi lho. Saya sudah beli nasi ini buat bapak,” katanya. Suaranya bergetar saat berbicara. Tanpa bisa dibendung, air mata Lia mengalir. Ia terisak, dan menangis dalam diam.

Terlambat sudah. Seandainya saja dari kemarin—atau paling tidak tadi siang, ia mau menyisihkan waktu sedikit saja untuk membelikan si pak tua nasi bungkus. Seandainya ia tidak terus menunda-nunda dari kemarin-kemarin.

Sudah terlambat sekarang. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Yang ada hanya penyesalan yang dalam, dan harapan agar tidak terulang kejadian yang sama—kesempatan yang tersia-sia dan terlewatkan.

SELESAI

* versi cetak: “Jadi intinya, ‘kasihan’ tanpa perbuatan itu sama aja omong kosong.”

Advertisements

Published by

Laksmi

An MA student at Waseda University, Shinjuku-ku, Tōkyo, Japan. An avid reader. A language geek as well. And a book hoarder.

3 thoughts on “Kesempatan Yang Terlewatkan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s