Lamunan

   Manusia selama ini berpikir bahwa mereka tahu mengenai banyak hal. Mereka pikir mereka tahu mengenai keberadaan mereka, mengenai seluruh bumi ini dan segala isinya, mengenai apa yang ada di atas langit dan di atasnya lagi, padahal sebenarnya mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya makhluk-makhluk yang berpura-pura tahu untuk menutupi bahwa sebenarnya mereka tidak tahu. Mereka mengirim kaumnya ke luar angkasa untuk menjelajahi bulan, meneliti batu-batuan dan tanah, menamai berbagai macam ilmu pengetahuan, dan bahkan mempelajari diri mereka sendiri, karena sebenarnya manusia takut akan hal-hal yang tidak mereka ketahui, sehingga mereka mencari tahu, dan saat mereka pikir mereka menemukan jawabannya, mereka pikir mereka tahu. Berpura-pura tahu, tepatnya.

   Anehnya, lama-lama kepura-puraan itu menjadi sesuatu yang nyata. Seakan-akan dunia ini menjadi terbalik; yang tidak nyata menjadi nyata, dan yang nyata terasa tidak nyata. Andai saja mereka bisa jujur, mereka akan mengakui bahwa sebenarnya sampai sekarang, mereka masihlah makhluk yang tidak tahu apapun mengenai kehidupan ini. Karena sebenarnya, siapa lagi yang paling mengetahui kehidupan kalau bukan Penciptanya seorang?

*

   Pak Kardi, supir keluargaku, sudah terlihat menungguku di depan gerbang sekolah. Begitu melihatku, ia melambai dengan semangat, memberi isyarat agar aku menuju ke tempatnya.

   “Sudah lama nunggu, pak?” tanyaku sopan seraya menyerahkan tasku ke pak Kardi. Seperti biasa, ia akan membawakan tasku sampai kami masuk ke dalam mobil.

   “Enggak. Baru lima menitan kok, non,” balasnya ramah. Ia menaruh tasku di kursi penumpang di belakang kursi sopir, kemudian memutar untuk membukakan pintu untukku.

   Aku memasukki mobil dan duduk di kursi penumpang di sebelah kursi supir, kursi pak Kardi. Pak Kardi menyalakan mesin mobil dan mengenakan sabuk pengaman. Aku sendiri merebahkan diriku di atas kursiku, merilekskan badanku.

   Jarak antara rumahku dan sekolahku bisa dikatakan cukup jauh. Rumahku terletak di pinggir kota sementara sekolahku terletak di pusat kota. Dengan mobil, biasanya perjalanan mencapai 30 menit. Itu pun kalau tidak macet. Kalau macet, bisa satu jam sendiri. Ditambah lagi dengan 4 lampu lalu lintas yang harus kami lewati dalam perjalanan.

   Kami tengah berhenti di lampu lalu lintas yang pertama. Antrian mobil yang panjang menanti lampu yang menyala merah berganti menjadi hijau dengan tidak sabar. Dengan panas matahari yang menyengat jalanan sampai jalanan pun serasa berasap, aku merasa sangat bersyukur bisa menikmati kesejukkan AC mobil. Aku melihat ke luar jendela dan melakukan aktivitas kesukaan setiap hari dalam perjalanan pulang sekolah: melamun.

   Selagi duduk di dekat jendela dan memandang ke arah luar, aku akan membayangkan sosok lain yang menemani perjalanan kami. Dalam imajinasiku, sosok lain itu akan berlari di samping kendaraan kami, menemani kami sepanjang perjalanan sampai kami tiba di rumah. Sosok itu bisa berwujud apa saja. Aku pernah membayangkan sosok itu sebagai seekor rusa, atau bahkan seekor serigala. Pernah juga aku membayangkan sosok jagoan seperti Kamen Raider atau Wolverine dari X-Men. Hari ini aku membayangkan si raksasa Lemuel Gulliver dari film Gulliver’s Travels. Mungkin karena semalam aku menonton ulang film Gulliver’s Travels untuk yang kedua kalinya maka hari ini aku memilih Lemuel Gulliver sebagai sosok yang akan menemaniku dalam perjalanan pulang. Dalam imajinasiku, Gulliver hari ini mengenakan kaos merahnya yang bertuliskan “Bucker Park” dengan gambar bola basket diikuti tulisan “Basketball” di bawahnya, serta celana pendeknya yang berwarna hijau, dan sepatu converse berwarna hitam dengan kaus kaki putih. Hari ini, ia akan mendampingi kami sepanjang perjalanan dengan berlari. Tidak masuk akal? Memang. Tapi begitulah imajinasiku, dan dalam imajinasiku tidak ada batasan apa pun. Yang tidak masuk akal pun akan jadi masuk akal. Begitu juga dengan Lemuel Gulliver hari ini. Dan di dalam imajinasiku, dia bukanlah raksasa tetapi manusia dengan ukuran yang normal—tentu saja, karena aku kan bukan liliput. Dia akan berlari sepanjang perjalanan, mendampingi mobil kami. Tentu saja, untuk menyamakan kecepatan dengan mobil kami, dia harus berlari kencang. Amat kencang. Kecuali saat kami berhenti di lampu merah atau saat macet. Saat itulah dia bisa beristirahat sebentar sebelum akhirnya mobil kami akan kembali melaju dengan cepat dan Gulliver-pun harus berlari sekencang-kencangnya untuk menyamakan kecepatan dengan kami.

   Di dalam imajinasiku, dia akan melihat kepadaku dan tersenyum, sementara kakinya terus berlari. Oh, aku hampir lupa. Hari ini Gulliver mengenakan kacamata hitam. Aku tidak memperhatikan sebelumnya karena sibuk memperhatikan larinya yang cepat. Luar biasa kan? Hari ini dia tampak berbeda dengan kacamata hitam itu. Mungkin karena sinar matahari yang sangat menyilaukan.

   Ketika jalanan mulai ramai, atau ketika ada mobil di depannya, aku membayangkan si Gulliver akan melompat tinggi melewati mobil-mobil itu. Bagaimana mungkin? Tentu saja mungkin, di dalam imajinasiku, yang tidak mungkin pun menjadi mungkin.

   “Ada apa non Dita? Kok lihat ke luar terus?” tanya pak Kardi, membuyarkan lamunanku. Kami tengah berhenti di lampu merah.

   “Nggak ada apa-apa, pak. Cuma ngeliatin mobil-mobil di jalan,” jawabku tak acuh. Dan  pak Kardi pun tidak bertanya apa-apa lagi.

   Aku berbohong kepada pak Kardi. Aku tidak yakin dia akan percaya padaku. Dan aku tidak yakin dia dapat ikut serta di dalam imajinasiku. Pernah sekali aku bercerita pada pak Kardi mengenai sosok yang selalu menemani kami, pak Kardi hanya tertawa dan bertanya balik, “Masak sih, non?” Dan beberapa hari kemudian ayah dan ibu akan mendengar cerita tersebut dari pak Kardi, dan mereka akan bertanya padaku mengenai cerita tersebut untuk mengkonfirmasi. Saat aku mengkonfirmasinya, mereka akan tertawa dan bilang, “Astaga, kamu sudah kebanyakan main dan nonton TV, Dit!” Kemudian ayah akan meremas kepalaku sementara ibu akan mencubit pipiku dengan gemas. Mereka masih menganggapku seperti gadis kecilnya yang baru saja lahir kemarin meskipun umurku sudah 13 tahun dan aku sudah memasuki Sekolah Menengah Pertama tahun ini. Biarlah. Toh, karena itu mereka selalu memanjakanku, membuatku senang bukan kepalang.

   Aku melanjutkan lamunanku dan memandang ke luar jendela lagi. Oh, Gulliver masih bersama kami. Dia di luar, sedang beristirahat mengambil napas sejenak.

   Lampu berganti menjadi hijau, dan pak Kardi melaju lagi. Gulliver pun kembali berlari mengikuti kami.

   Aku sering merasa penasaran, mungkinkah ada orang lain selain aku yang bisa melihat Gulliver? Apakah hanya aku yang bisa melihat sosok-sosok yang biasa mendampingi kami sepanjang jalan ini? Apakah mobil-mobil lain pun memiliki pendamping-pendamping yang serupa? Bagaimana dengan para pengendara motor dan pejalan kaki? Apa mereka pun memiliki sosok-sosok yang menemani mereka?

   Bagaimana jika sebenarnya masing-masing orang memang memiliki sosok-sosok yang menemani mereka kemanapun mereka pergi, tapi mereka semua tidak bisa melihatnya karena terlalu disibukkan oleh hal-hal yang sedang ada di depan mereka? Hal-hal yang mereka pikir mereka bisa lihat?

   Tunggu sebentar, ‘hal-hal yang mereka pikir mereka bisa lihat’?

   Ya, pikirku lagi, meyakinkan diri sendiri. Bagaimana kalau sebenarnya sosok-sosok yang selalu menemani kita itu sebenarnya memang ada, tetapi kita selalu mengacuhkan mereka karena kita pikir mereka tidak ada? Bagaimana kalau sebenarnya kita tidak bisa melihat mereka hanya karena kita kurang keras berusaha? Mungkinkah sebenarnya mata kita terlalu sibuk melihat apa yang kita pikir bisa kita lihat, sementara di balik itu sebenarnya penuh dengan hal-hal yang tidak bisa kita lihat?

   Aku merinding sendiri memikirkan itu. Tapi pikiranku tidak bisa berhenti.

   Bagaimana jika hal-hal yang tidak bisa kita lihat itu malahan hal-hal yang sebenarnya? Sementara kita, sibuk melihat hal-hal yang bisa kita lihat, lantas berpikir bahwa hal-hal yang bisa kita lihat itu merupakan hal-hal yang nyata, padahal sebenarnya tidak? Bagaimana jika ternyata semua itu cuma ilusi?—bahwa ternyata hal-hal yang kita rasakan dan alami di dunia selama ini bukanlah kenyataan yang sebenarnya? Dan bahwa di balik tipuan ini, sebenarnya tersembunyi dunia yang sebenarnya?

   Mungkin saja kita sebenarnya hidup di dunia yang sama sekali berbeda—tanah yang selama ini kita tapaki, benarkah itu wujud tanah yang sebenarnya? Makanan yang selama ini kita makan, apakah memang itu bentuk yang sesungguhnya? Orangtuaku—ayah, ayahku tersayang, yang selama ini memanjakanku—ayah, dengan mata hitamnya yang ramah dan kumis tebal kebanggaannya—mungkin saja itu bukanlah wujud yang sebenarnya. Dan ironisnya, bahkan ayah sendiri pun mungkin tidak menyadarinya, karena dia tidak tahu itu; karena yang dia lihat di depan cermin selama ini adalah sosoknya yang tegah, gagap, dengan kumis tebal kebanggaannya itu. Lalu ibu, dengan rambut panjangnya yang selalu ia rawat dengan sepenuh hati, dan kulit kuningnya yang langsat dan bersih seperti porselin, mungkinkah itu rambut dan kulitnya yang sebenarnya?

   Bulu kudukku merinding ngeri.

   Bagaimana kalau apa yang selama ini kita lihat di cermin, ternyata bukanlah sosok kita yang sebenarnya? Mungkin rambut panjangku yang kubanggakan selama ini sebenarnya hanyalah benang kusut yang menggantung begitu saja di atas kepalaku. Mungkin saja sepatu yang kukenakan sekarang ini sebenarnya tidak ada. Mungkin saja aku berpikir bahwa aku mengenakan sepatu itu karena aku merasakannya dan melihatnya. Tapi bagaimana kalau apa yang kurasakan dan kulihat itu sendiri ternyata hanyalah ilusi semata? Mungkin di balik “kenyataan” ini sebenarnya aku tidak mengenakan apa-apa. Mungkin aku sebenarnya bertelanjang kaki. Hanya saja aku merasa memakai sepatu karena aku ditipu oleh ilusi merasakan dan melihat sepatu.

   Astaga, bagaimana kalau itu benar?

   Aku semakin ngeri mendengar pikiran-pikiran di dalam kepalaku. Lara Croft bahkan sudah sama sekali kulupakan. Aku harap dia baik-baik saja berlari di samping mobil kami sementara aku masih asyik dengan lamunanku.

   Lalu, bagaimana kalau aku memang benar? Aku mulai curiga, mungkinkah gedung sekolah yang selama ini kumasuki memang sebuah gedung sekolah. Siapa tahu sebenarnya itu hanyalah gedung kosong tak berisi. Mungkin selama ini aku dan teman-temanku sebenarnya memasuki gedung kosong yang kami sangka adalah sekolah.

   Mungkin sebenarnya, saat Tuhan sang Pencipta menciptakan manusia, diam-diam Ia memperlengkapi setiap mereka dengan kacamata yang tidak terlihat untuk membantu mereka melihat dunia ini. Dengan kacamata itulah manusia mendapatkan definisi akan sesuatu, seperti bagaimana kita melihat kursi selayaknya kursi yang kita tahu sekarang: tempat untuk duduk, berkaki empat, dengan sandaran—atau rumah: tempat untuk tinggal, beratap dan berdinding, dilengkapi dengan jendela dan pintu. Padahal, mungkin kalau kita bisa melepaskan “kacamata” ini, kita akan melihat bahwa tempat yang selama ini kita kira rumah ternyata hanya tanah kosong belaka; dan kursi yang selama ini kita tahu ternyata tak lebih dari seonggok batu.

   Bukan hanya yang kulihat, mungkin bahkan apa yang kudengarkan selama ini pun merupakan ilusi. Mungkin Tuhan pun menaruh alat pendengaran khusus di dalam telinga manusia. Apa yang selama ini diucapkan teman-temanku, mungkin kalau aku bisa melepaskan alat pendengaran khusus ini, ternyata hanya gumaman tak jelas—atau mungkin bahkan suara lengkingan. Hanya saja karena aku mengenakan alat khusus ini, lengkingan dan gumaman tersebut “diterjemahkan” menjadi kata-kata yang kumengerti. Menjadi bahasa-bahasa yang aku kenal.

   Mungkinkah yang kupikirkan ini benar? Bagaimana kalau ternyata iya? Dapatkah aku di kemudian hari melepaskan “kacamata” dan “alat bantu dengar”-ku? Dan mungkinkah suatu hari aku akan melihat dunia yang sebenarnya? Mungkinkah suatu hari aku dapat melihat wujudku yang sebenarnya? Dan mungkin saja—mungkin, apabila aku telah melepaskan “kacamata”-ku, aku dapat melihat sosok pendampingku yang sesungguhnya. Mungkin Lemuel Gulliver pun tidak akan hanya berada di dalam imajinasiku semata.

   Aku terkesiap—astaga, Gulliver! Aku benar-benar melupakannya! Apakah dia masih berlari di samping mobil kami?

   “Sudah sampai, non,” kata pak Kardi tiba-tiba.

   Dan aku merasakan mobil memang sudah berhenti. Astaga, aku bahkan melewatkan 3 lampu lalu lintas sisanya dalam perjalanan pulang! Aku benar-benar hanyut di dalam lamunanku!

   Pak Kardi menatapku heran dan bertanya, “Non Dita, kenapa nggak turun? Melamun lagi ya?” Pak Kardi membuka pintu mobil dan turun.

   Aku melihat ke luar jendela sekali lagi. Lemuel Gulliver sudah tidak ada.

*

   “Seekor kelinci ditarik keluar dari topi pesulap. Karena ia adalah kelinci yang amat sangat besar, tipuannya perlu dipelajari selama ribuan tahun. Semua makhluk hidup dilahirkan di ujung setiap lembar bulu kelinci yang lembut, dimana mereka berada dalam posisi untuk mempertanyakan kemustahilan tipuan itu. Namun, ketika mereka bertambah umur, mereka sibuk menyelusup semakin dalam ke balik bulu-bulu itu.”[1]


[1] Gaarder, Jostein. Dunia Sophie. Trans. Rahmani Astuti. Gold Edition. Ujungberung, Bandung: Penerbit Mizan, 1991. (hal. 50-51)

Advertisements

Published by

Laksmi

An MA student at Waseda University, Shinjuku-ku, Tōkyo, Japan. An avid reader. A language geek as well. And a book hoarder.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s