Being Realistic?

“Step by step aja. Jangan berpikir dan berawang-awang setinggi langit dulu tapi aplikasinya aja masih nggak jelas. Bisa jadi sudah bertekad dengan kuat, tapi mana kita tahu apa yang bakal terjadi di masa depan? Lebih baik berencana dan disimpan di dalam hati sampai akhirnya benar-benar terealisasi, daripada berkoar2 ke sana-sini, dan ternyata ujung-ujungnya Cuma omong besar. Kita kan nggak bisa menebak masa depan.”

“Maaf aku kasar dan terlalu terus terang, tapi jujur aja, salah satu alasan aku nggak suka orang ‘gereja’ adalah karena mereka biasa bicara terlalu cepat tanpa dipikir dengan logis, dan mengatasnamakan iman dan mukjizat. Thanks deh, aku hidup di dunia yang nyata dan aku lebih suka menapakkan kaki di bumi dan menjadi realistis daripada terbang jauh melayang ke surga tapi tiba-tiba jatuh dengan keras ke bumi bertangan kosong.”

“Biarkan orang melihat langsung realisasinya saja. Itu jauh lebih baik daripada omong kosong di luar sana tanpa bukti dan hasil.”

Advertisements

Published by

Laksmi

An MA student at Waseda University, Shinjuku-ku, Tōkyo, Japan. An avid reader. A language geek as well. And a book hoarder.

4 thoughts on “Being Realistic?”

    1. Hahaha. Totally. But somehow I think we are all hypocrites, actually. Maybe it’s on the same level of ur saying dat all people are mostly grey. Not black, not white!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s